Ketika strategi bisnis berubah jadi tragedi

Ketika strategi bisnis berubah jadi tragedi

Menerapkan strategi bisnis demi mendongkrak penjualan tentu sah-sah saja asalkan itu dapat di pertanggung jawabkan ketika strategi tersebut menggunakan tehnik undian atau pemberian hadiah untuk menarik pelanggan.
Namun apa jadinya kalau sebuah kesalahan teknis terlanjur terjadi dan itu menjadi penyebab terhadap pembatalan sebuah hadiah..?
Ini tentu jadi masalah besar dan bukan tidak mungkin sebuah perusahaan akan di tinggalkan oleh pelanggannya tentunya dengan "kenangan kelam" dan akhirnya bisa jadi akan menimbulkan ke-gaduhan yang berakhir dengan ketidak percayaan terhadap suatu produk.

Kata pembuka di atas merupakan ringkasan cerita dari perusahaan minuman terkenal dari amerika yang akhirnya hengkang dari negara philipina karena ada kesalahan teknis dan akhirnya berujung pada pengadilan mahkamah tinggi negeri tersebut.

Pembaca sudah tahu belum dengan cerita tersebut..?
Kalau belum tahu, silahkan di simak dengan baik dan berikut kisah dari tragedi tersebut.

Pada tahun 1992, pepsi-cola bertekad ingin menyaingi coca-cola dalam hal pemasaran minuman ber-soda di philipina.
Untuk men-sukseskan strateginya tersebut, Pepsi-cola menggunakan tehnik marketing yang di sebut number fever dimana dibalik tutup botol produk tersebut di beri 3 digit angka dan barang siapa yang nomornya sesuai dengan nomor yang di tentukan saat pengundian, maka pemilik nomor tersebut akan mendapat hadiah uang dalam jumlah yang sudah di tentukan.

Pembaca mungkin bertanya-tanya...kira2 berapa sih hadiahnya..?
Ya lumayanlah..ada yang 1000 peso, kemudian meningkat jadi 1500 peso..meningkat lagi..sampai akhirnya jadi 1 juta peso.
Tehnik ini mendapat sukses besar kala itu dan konon penjualan pepsi-cola melonjak hingga 40% di negeri tersebut.

Namun ternyata kesuksesan tersebut tak berlangsung selamanya pada pepsi-cola.
Ini terjadi ketika suatu hari, saat pihak pepsi-cola mengumumkan pemenang undian berhadiah 1 juta peso jatuh pada nomor 349...dan ternyata ada 800.000 warga philipina yang mempunyai nomor tersebut dan ini otomatis jadi pemenang.
Demo warga menuntut pembayaran undian pepsi-cola.
sumber: marketinglesson
Semua warga bersorak kegirangan, merayakan keberuntungan namun di lain pihak perusahaan pepsi-cola meng-claim ada kesalahan sistem komputer, kerusakan sistem sekuriti, terjadi 'glitch' pada komputer sehingga mengeluarkan nomor yang salah.
Banyak orang datang untuk mencairkan hadiah 1 juta peso mereka namun pihak pepsi-cola tetap beralasan dengan kesalahan sistem komputer mereka.
Dan warga-pun marah..yang akhirnya pepsi-cola memutuskan untuk meninggalkan investasi mereka di negeri philipina tersebut.

Kejadian ini mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan dan akhirnya pihak pepsi-cola ber-itikad baik membayar tuntutan mereka kepada sekitar 500.000 penuntut yang jumlahnya seper-empatnya atau sekitar 250.000 peso kepada pemenang undian.

Bagaimana kesalahan itu bisa terjadi..? konon perusahan konsultan mexico yaitu D.G Consultares yang dipercaya untuk memilih nomor tertentu, khilaf dengan tidak membaca memo yang tertulis saat pengambilan nomor pemenang undian.
Akhirnya setelah pihak pepsi-cola membayar itikad-baik kepada 500.000 pemenang tadi, mahkamah tinggi philipina membersihkan pepsi-cola dari segala tuntutan namun kerusakan "nama brand" yang di akibatkan dari kesalahan tragedi tersebut sudah memupus keberlangsungan produk pepsi-cola tersebut.

Demikian salah satu tragedi bisnis yang mulanya berasal dari strategi jitu namun berujung bencana buat bisnis itu sendiri.
Apakah anda punya pesan yang bermanfaat untuk cerita ini..? silahkan berkomentar di kolom yang sudah tersedia.
Sumber :
Pepsi Contest In the Philippines Went Horribly Wrong. Thousands Left Angry.
Marketing Disaster : Pepsi-Cola’s "Number Fever" Fiasco, Feb – May 1992.